Berita & Publikasi

Sekolah Tambak Keempat: Strategi Pengelolaan Kelompok Pembudidaya Udang

Oleh: Idham Malik(Aquaculture Officer, WWF-Indonesia) -  


Tanggal 2 April 2016 adalah kali keempat WWF-Indonesia menyelenggarakan Sekolah Tambak Kawasan Minapolitan Kab. Pinrang. Kali ini tema yang diangkat “Strategi Pengelolaan Kelompok Pembudidaya Udang” dan mengundang Abdul Salam Atjo, penyuluh perikanan setempat, serta Ariyanto Hidayat, fasilitator desa di Kabupaten Gowa sebagai pembicara. Tujuan dari kegiatan yang dihadiri oleh 18 petambak Kawasan Minapolitan ini adalah agar petambak lebih memahami metode berkelompok dan dapat menerapkan metode tersebut dalam pengembangan kelompok dalam peningkatan kesejahteraan bersama.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian sertifikasi Aquaculture Stewardship Council (ASC) adalah kelembagaan kelompok tani. Dalam sebuah kelompok, hubungan kerja sama untuk perbaikan teknis budidaya udang dan lingkungan dapat terjalin. Adanya struktur organisasi untuk pembagian peran, perencanaan kelompok, aturan organisasi dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta pengelolaan keuangan yang baik, dapat mengembangkan kemampuan sosial para pembudidaya serta kompetensi teknis dalam peningkatan produksi udang windu. Dalam kelompok, perbaikan lingkungan juga dapat dilakukan secara efisien dan massal, seperti perencanaan dan pelaksanaan penanaman mangrove secara bersama, kesepakatan bersama untuk pengelolaan limbah budidaya, antisipasi penyebaran penyakit secara bersama, dan adanya tindakan terhadap para pelaku perusak lingkungan.

iwakkkkkkssss

Abdul Salam Atjo mengawali materi dengan menjelaskan secara rinci dasar hukum bentuk kelembagaan, syarat-syarat dan kegunaannya. Menurut KEP 14/MEN/2012, terdapat beragam bentuk lembaga: Kelompok Usaha Bersama (KUB), Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan), Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar), dan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) – misalnya, kelompok yang mengawasi kawasan laut dari aktivitas pengeboman ikan. Jumlah anggota kelompok yang efektif, menurut Abdul Salam, terdiri dari 10-25 pembudidaya dan dipimpin oleh ketua yang kharismatik dan berpengaruh. Selain itu, masalah administrasi pun perlu mendapat perhatian khusus, seperti buku kelompok (berisi nama, alamat, nomor telepon, usaha pokok dan usaha sampingan, data kepemilikan lahan dan jumlah petakan), tersedia buku kas harian, buku rencana kegiatan, hingga buku tamu.

Lain lagi materi dari Ariyanto Hidayat, beliau mengajak peserta bermain sambil belajar. Peserta diberi selembar kertas dan diminta untuk membentuk lubang besar agar masing-masing dapat masuk ke dalam lubang tersebut. Tentu dengan syarat, kertas tidak boleh dirusak pinggirannya. Dalam permainan tersebut, peserta diajak berpikir kritis danout of the box. Tak hanya itu, peserta juga diharapkan dapat berusaha keras untuk mencari jalan keluar, serta tidak cepat menyerah ketika menghadapi masalah.

Dari permainan tersebut, peserta diajak untuk belajar dengan cara praktik. Belajar dari praktik melatih kita untuk menggali sendiri pengalaman selama proses pembelajaran untuk dapat direfleksikan. Oleh karena itu, setelah praktik masing-masing peserta diminta menceritakan pengalaman belajarnya; kemudian menganalisa permasalahan yang dihadapi; mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi; dan yang terakhir, mengidentifikasi solusi terhadap permasalahan. Dari runutan inilah peserta memperoleh pemahaman baru. Nah, pemahaman baru ini diharapkan dapat digunakan peserta sebagai bekal untuk mereka ulang kejadian yang pernah dialami sebelumnya. Urutan pembelajaran ini juga berlaku ketika menghadapi permasalahan di lapangan.

2
Untuk mematangkan hal tersebut, Ariyanto mencoba memetakan metodologi untuk memberi pemahaman kepada pembudidaya bagaimana skema pengembangan kelompok. Pertama, kelompok harus menentukan target atau visi yang ingin dicapai, kemudian tentukan kebutuhan, misalnya dengan kendaraan pengembangan koperasi usaha pembudidaya udang. Kedua, pastikan bentuk intervensinya melalui pengorganisasian, perencanaan dan pembagian tugas. Setelah itu, tetapkan waktu pelaksanaan, lokasi kegiatan, mitra strategis (seperti LSM dan pemerintah setempat), perkirakan biaya yang dibutuhkan, serta sumber pembiayaan.

Penjelasan dari Abdul Salam Atjo dan skema yang diperkenalkan Ariyanto diharapkan dapat membantu para peserta untuk mengorganisasi dan menggambarkan skema ideal kelompok mereka. Langkah selanjutnya adalah menerapkan skema tersebut dalam kelompok mereka masing-masing. Semoga kelas di Sekolah Tambak yang keempat ini bermanfaat, sampai bertemu di Sekolah Tambak berikutnya!

Berita Terakhir