Berita & Publikasi

Rumpon Tradisional, Alat Pengumpul Tuna di Sendang Biru

Oleh: Zainul arifin(Capture Fisheries Assistant For Tuna Fisherman Community Engagement WWF-Indonesia) -  


Setelah mengenal banyak macam alat tangkap tuna di Sendang Biru, saya kembali diberikan rasa penasaran dengan alat pengumpul ikan, yaitu rumpung atau rumpon. Dimulai dengan bergegas menuju dermaga di Sendang Biru pada 14 Mei lalu, saya sudah siap mencari tahu lebih lengkap mengenai rumpon.

Pada tanggal 16 Mei saya melakukan wawancara secara acak kepada nelayan, ketua kelompok nelayan, pegawai Dinas Perikanan Kabupaten (DKP) Malang, pengisi perahu serta pengelola kapal. Pertanyaan yang saya ajukan meliputi jenis rumpon yang digunakan, komponen pembuatan rumpon, letak lintang dan bujur rumpon, aturan pembuatan rumpon serta apa sanksi yang diberikan jika ada yang mencuri ikan di rumpon milik nelayan lain.

©Zainul Arifin/WWF-Indonesia
©Zainul Arifin/WWF-Indonesia

Hingga pada akhirnya saya mendapatkan informasi tentang rumpon di Sendang Biru dari hasil wawancara kemarin. Terdapat dua jenis rumpon yang bisa ditemukan di sana, yaitu:

Rumpon standard, rumpon ini hanya dipasang hingga lintang 8 dengan kisaran kedalaman 1.500 – 2.000 meter yang digunakan maksimal 6 orang. Kisaran jarak dari pelabuhan sendang biru ke lokasi rumpon sekitar 2 – 2,5 mil untuk jarak terdekat.
Rumpon tetap, rumpon ini dipasang di atas lintang 8, kisaran kedalaman 2.500 – 5.000m, digunakan maksimal 8 orang. Sedangkan jarak pada rumpon tetap lebih dari 2,5 mil
Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 26 tahun 2014 ada dua jenis rumpon yang dapat digunakan, yaitu rumpon hanyut dan rumpon menetap. Rumpon hanyut ditempatkan tidak menetap, tidak dilengkapi dengan jangkar dan hanyut mengikuti arah arus. Sedangkan rumpon tetap adalah rumpon yang diletakkan secara menetap dengan menggunakan jangkar. Rumpon tetap sendiri terbagi dalam dua kategori, yaitu rumpon permukaan dan rumpon dasar. Rumpon permukaan dilengkapi dengan atraktor yang ditempatkan di kolom permukaan perairan secara menetap untuk mengumpulkan ikan pelagis dan rumpon dasar dilengkapi dengan atraktor yang ditempatkan di dasar perairan untuk mengumpulkan ikan demersal.

Mengenal Rumpon Lebih Dekat
Ketertarikan saya untuk mengenal rumpon berangkat dari objek yang sedang kami teliti seputar pengelolaan tuna handline berbasis rumpon di Sendang Biru. Selain itu, rumpon sendiri menjadi sangat menarik setelah saya melihat aktivitas yang dilakukan oleh nelayan sekoci dalam menangkap tuna. Menurut para nelayan, tanpa adanya rumpon mereka merasa kesulitan untuk menangkap ikan.
zainul_arif_wwf_indonesia

Setiap kapal sekoci rata-rata memiliki lebih dari tiga rumpon untuk menangkap ikan. Rumpon ini diletakkan di daerah penangkapan yang nelayan biasa datangi, yaitu pada 8º00’00” – 12º00’00” LS dan 112º00’00” – 116º00’00” BT. Nelayan biasanya membutuhkan waktu satu hingga dua hari perjalanan untuk mencapai koordinat ini. Menurut informasi dari bapak Ongkik, pegawai UPTD dan Sekertaris kelompok besar nelayan bersama beberapa nelayan Sendang Biru, jumlah juragan kapal yang memanfaatkan satu buah rumpon adalah 5-10 orang.

Status juragan kapal bisa dilihat dari hubungan kerjasama untuk membuat satu rumpon. Jika setiap juragan memiliki enam kapal, artinya jumlah kapal yang akan memanfaatkan rumpon tersebut adalah jumlah kapal milik juragan yang dikalikan dengan jumlah juragan yang bekerja sama dalam membuat satu rumpon. Sehingga jika mengikuti contoh perhitungan di atas ada sekitar 18 kapal yang memanfaatkan satu rumpon di Sendang Biru. Sedangkan, harga pembuatan satu unit rumpon berkisar antara Rp.35.000.000-Rp.80.000.000 tergantung pada konstruksi, jarak pemasangan ,material, serta kedalaman rumpon. Salah satu komponen inti yang ada pada rumpon yang dibuat di Sendang Biru ialah pelampung, atraktor, tali, dan pemberat atau jangkar.

Adapun aturan dalam pengelolaan rumpon yang disepakati nelayan ialah dengan memanfaatkan rumpon secara bergantian agar ikan di rumpon tidak dicuri. Karena nelayan yang mencuri ikan milik rumpon lain akan dikenakan sanksi sesuai dengan kesepakatan bersama. Untuk sanksi sendiri yang pernah dikenakan adalah 10% dari hasil tangkap, namun masih dapat berubah tergantung hasil kesepakatan bersama. Harapannya walaupun rumpon memudahkan dalam menangkap ikan, nelayan tetap bijak dalam menangkap ikan agar biota laut di Sendang Biru dapat tetap lestari dan nelayan semakin sejahtera.

Berita Terakhir