December 9, 2015

Indonesia tekankan pentingnya kerjasama di bidang pengurangan resiko bencana Dan pengembangan International Disaster Response Law


Indonesia menilai bahwa seluruh negara perlu terus mengambil langkah konkrit di dalam penguatan kebijakan, hukum nasional serta institusi nasionalnya dalam upaya pengurangan resiko bencana. Pengalaman Indonesia dalam menghadapi bencana Tsunami menunjukkan bahwa kegiatan reducing risk dan managing disaster perlu dimasukan di dalam kerangka pembangunan, terutama agar berbagai hasil pembangunan di suatu negara tidak musnah akibat bencana.

Hal tersebut ditekankan oleh Duta Besar Triyono Wibowo, Wakil Tetap Indonesia pada Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, pada saat menjadi pembicara utama pada Panel Discussion berjudul Strengthening International Disaster Response Law (IDRL) yang berlangsung di Jenewa, Swiss, tanggal 9 Desember 2015. Acara tersebut merupakan salah satu kegiatan yang berlangsung di sela-sela Konperensi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah ke-32 yang saat ini tengah berlangsung di Jenewa, Swiss.

Lebih lanjut, disampakan pula oleh Dubes Triyono bahwa salah satu pengalaman dalam penanganan mega-disaster seperti Tsunami menunjukkan perlunya adanya kebijakan penanganan bencana yang bersifat khusus, yaitu kebijakan yang memungkinkan adanya fleksibilitas bagi masyarakat internasional dalam menyalurkan bantuannya kepada negara yang mengalami bencana, namun di saat yang sama tidak menghilangkan kemampuan Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah untuk tetap memiliki kontrol terhadap upaya penyaluran bantuan internasional dimaksud.

Acara Panel Discussion ini diselenggarakan oleh lima negara kelompok MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia). Selain Dubes Indonesia di Jenewa, pembicara lain pada acara ini adalah Ketua Palang Merah Korea Selatan; Kepala Legal Division Badan Penanganan Bencana Turki; pejabat tinggi dari Palang Merah Australia; serta Wakil Dubes Meksiko di Jenewa. Melalui acara panel discussion dimaksud, seluruh negara MIKTA berharap perhatian masyarakat internasional terhadap pentingnya isu IDRL akan semakin meningkat.

Konperensi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (International Red Cross and Red Crescent Conference) merupakan pertemuan regular yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali di bawah mandat statuta International Federation of the Red Cross (IFRC) sebagai institusi yang mewadahi seluruh national societies (Palang Merah dan Bulan Sabit Merah) di seluruh dunia. Konperensi tersebut diikuti oleh perwakilan dari seluruh national societies dari seluruh dunia serta perwakilan dari seluruh Negara pihak Konvensi Jenewa 1945. Konperensi telah dimulai sejak tanggal 8 Desember 2015 dan akan ditutup pada tanggal 10 Desember 2015.

 

Jenewa, 9 Desember 2015

Triyono Wibowo

Foto : Duta Besar Triyono Wibowo, Wakil Tetap Indonesia pada Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa saat menjadi pembicara utama pada Panel Discussion berjudul Strengthening International Disaster Response Law (IDRL) yang berlangsung di Jenewa, Swiss, tanggal 9 Desember 2015

Useful Links
Deplu
Depkes
Budpar
BKPM
UN
WHO
ILO
Nafed
WIPO
WTO
ITU