Berita

Menakar Omzet Ratusan Juta dari Kerajinan Berbahan Kayu

Di post oleh admin pada 10 April 2017 , 4:00 AM

JAKARTA, KOMPAS.com – Zulfian dan Catur Sugiyono, dua pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), tak pernah menyangka bahwa kerajinan yang mereka ciptakan bisa membawanya pada kesuksesan. Berbekal bahan kayu, mereka bisa mencetak omzet ratusan juta per bulan.

“Awalnya pada 2003, saya hanya ingin memanfaatkan limbah kayu dari pabrik mebel yang ada di dekat rumah,” cerita Zulfian dalam rilis yang diterima Kompas.com, Selasa (7/3/2017).

Berangkat dari niat semula itu, Zulfian lalu membayangkan bisnis itu bisa jadi peluang pemberdayaan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Sejak itu, dia mulai mencoba memproduksi kerajinan.

Kala itu, Zulfian berpikir untuk membuat bermacam-macam kotak yang bisa digunakan menyimpan berbagai barang, mulai perhiasan, tempat tisu, hingga plakat penghargaan. Kerajinan itu kemudian diberi label V&V Craft.

Berbeda dengan Catur, inspirasi pertama untuk membuat kerajinan berbahan kayu adalah membuat topeng cat. Dimulai sejak 1996, dia nekat menjalankan usaha dengan modal Rp 1,5 juta.

Kebetulan, bahan bakunya mudah didapat di sekitar tempat tinggalnya dulu, di kawasan Jogonalan, Bantul-Yogyakarta.

Kerajinan yang dibuat Catur cenderung berbeda dengan topeng kayu ciptaan perajin lain. Catur turut mengaplikasikan kelihaiannya membatik pada kayu. Kini, kerajinan itu lebih dikenal dengan batik kayu.

“Selain topeng, kami membuat pigura, patung, dan juga tongkat. Daya tarik ada pada motif batik yang atraktif tetapi terkesan klasik,” ujar Catur.

Sama dengan Zulfian, Catur juga sudah memiliki label dagang sendiri, yaitu Catur Batik Wood. Bisnis itu kemudian berkembang dengan cepat. Kini, ia sudah memiliki beberapa outlet yang tersebar di Jakarta dan Bali.

“Dua tempat di Sarinah-Thamrin, Jakarta Pusat. Lalu dua lagi ada di terminal E dan D Bandara Soekarno-Hatta. Kalau di Bali sudah ada tiga outlet,” tambahnya.
Tak hanya itu, kerajinan buatan dia juga sudah diekspor ke sejumlah negara. Antara lain, Malaysia, India, Afrika Selatan dan Perancis.

Catur bilang, ranum usahanya dimulai dari bertambahnya hotel dan perumahan yang berdiri di Jakarta. Karyanya kemudian dijadikan sebagai elemen dekorasi hotel dan rumah.

“Setelah kami berhasil menguasai pasar dalam negeri, kami mulai ekspor untuk mencari pasar asing pada 1999,” ujarnya.

Strategi pun dirangkai. Menurut Catur, karakter konsumen mancanegara berbeda dengan dalam negeri. Mereka lebih pilh produk yang dibuat handmade dengan tingkat kesulitan yang tinggi sehingga harganya jauh lebih mahal.

“Uniknya, ketertarikan konsumen mancanegara bukan terletak pada desain, melainkan pilihan warna. Jepang dan China menyukai warna cerah—terutama yang melambangkan unsur hoki—sedangkan kawasan Amerika lebih suka warna klasik seperti cokelat,” lanjutnya.

Binaan

Usaha Catur dan Zulfian tentu tidak selalu berjalan mulus. Terlebih lagi sampai akhirnya bisa menghasilkan omzet hingga ratusan juta per bulannya.

Pengalaman Zulfian, misalnya, ia pernah terbentur masalah klasik, pendanaan dan pemasaran. Padahal, saat itu sambutan dari konsumen yang menyukai produknya sedang meningkat.

Pada satu kesempatan, Zulfian pernah menawarkan produknya pada berbagai perusahaan dan institusi. Namun, saat pesanan datang dalam jumlah besar, ia kelimpungan.

“Saya jadi pusing, masalahnya modal untuk membeli bahan baku dan menggaji karyawan tidak cukup. Akibatnya, peluang bisnis di depan mata dengan berat hati ditolak,” kenangnya.
Setali tiga uang, hal itu dirasakan pula oleh Catur. Namun, pada akhirnya kesulitan itu terjawab saat PT Telkom Indonesia (Persero) melirik usaha Zulfian dan Catur. Melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), dua pengusaha itu mendapat bantuan.

Bantuan tidak terbatas pada pemodalan saja, tetapi juga pelatihan dan fasilitas pemasaran produk lewat penawaran mengikuti berbagai pameran.

“Saya kerap diajak mengikuti pameran bersama Telkom bahkan hingga ke luar negeri,” jelas Zulfian.

Ia juga menjelaskan, dari Telkom ia mendapat bantuan permodalan dua kali. Lalu, pelatihan pun meliputi proses produksi, manajemen, pemasaran, dan pengemasan. Bahkan, ia juga mendapat kesempatan mengikuti pelatihan ekspor di Pusat Pelatihan Ekspor Nasional (PPEN) Departemen Perdagangan RI di Jakarta.

“Dari situ usaha saya terus berkembang. Untuk pasar ekspor, kami mengirimkan produk ke Malaysia, Singapura, dan Afrika Selatan. Sekarang omzet per tahunnya mendekati Rp 1 milyar,” ujar Zulfian.

Karyawan yang bekerja untuknya pun sudah berjumlah 15 orang. Jumlah itu belum termasuk tenaga paruh waktu ketika pesanan produk meningkat.

“Semua karyawan itu adalah kerabat dan tetangga,” tuturnya.

Hal itu juga diamini oleh Catur. Ia bilang, sejak mengikuti pelatihan manajemen bisnis dan ekspor yang difasilitasi Telkom, usahanya semakin terkelola dengan baik. Ekspor produk pun terus meningkat.

“(Media pemasaran) yang paling tepat memang mengikuti pameran baik di dalam maupun luar negeri. Apalagi segmentasi pasar kami adalah menengah ke atas,” ujar Catur.

Akan tetapi, kata Catur, usahanya tak akan pernah sukses tanpa menjaga kualitas.

“Pengusaha harus jeli membaca tren dan jaga kualitas. Agar tercapai harus ada totalitas dam berpikir menyatu dengan produk. Kalau (kita) menyayangi produk, maka produk pun akan menyayangi (kita), ujarnya.

Strategi baru sedang disapkan oleh ia dibantu Telkom. Salah satunya dengan mempersiapkan pemasaran online agar produknya lebih mudah dikenal global.

Pameran terdekat pun sedang disiapkan oleh Catur dan Zulfian. Rencananya, produk mereka akan terpampang di etalase pameran kerajinan digital pertama, Telkom Craft Indonesia pada 10-12 Maret 2017 di Hall A Jakarta Convention Center.


Berita Terkait

Mendag Promosikan Potensi Indonesia di Davos

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam ajang "Indonesia Night 2017" di Davos, Swiss, yang dihadiri sejumlah

Baca selengkapnya
Pameran Jami TUNTAS Expo Merangkul PKL dan SKPD

GOJambi – Bertempat di Komplek Kantor Gubernur Jambi, Jum’at (6/1), dalam rangka memperingati hari ulang tahun (HUT) Jambi ke-60, pameran

Baca selengkapnya
Lestarikan Produk Lokal, Bank Indonesia Support UKM

Laporan Wartawan Tribun Medan / Ryan Achdiral Juskal TRIBUN-MEDANcom, MEDAN - Menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) para pebisnis, bahkan

Baca selengkapnya